Diskusi

Mengapa dilanda bencana

ae6e-gempa-sumatraMengapa negeri kita sepertinya seperti bertubi-tubi dilanda bencana, mulai dari tsunami, banjir, tanah longsor sampai gempa bumi, belum lagi bencana sosial yang kerap kali kita saksikan dalam berita-berita di berbagai media. Bahkan nyaris tidak pernah kita saksikan berita-berita yang bagus, bahkan rupanya jadi adagium bahwa the bed news is the good news. Itu semua menurut kita kalau sepakat merupakan bagian dari bencana.

Manakala kita saksikan beberapa bencana di berbagai daerah seraya orang dan bahkan kita mengatakan bahwa itu merupakan gejala alam biasa. Memang tidak bisa dibenarkan bahwa alam dimana pun akan memperlihatkan gejalanya. Gejala alam sepenuhnya menjadi urusan Allah SWT yang sering kita sebut sunnatullah, tetapi sebab musababnya bisa jadi urusan kita, seperti disebutkan dalam Firman Allah : “Telah timbul keruksakan di daratan dan lautan yang disebabkan oleh ulah tangan manusia itu sendiri, supaya mereka bisa merasakan sebahagian dari akibat perbuatannya”

Salah satu saja yang menjadi focus perhatian kita yang menyebabkan timbulnya bencana tersebut adalah karena sudah hilangnya rasa malu pada diri manusia, khususnya orang-orang Islam. Orang bisa saja tidak malu secara langsung kepada Allah yang tidak bisa “jahrotan” di hadapan manusia, karena ukurannya adalah sudah jelas kualitas imannya, tetapi secara social pun orang sudah tidak malu melakukan hal yang tidak senonoh di hadapan orang lain. Sekali lagi itu pun tetap dilihat dari kualitas imannya.

Perhatikan beberapa hadits berikut ini : “Jika Allah hendak menghancurkan suatu kaum (negeri), maka terlebih dahulu dilepaskannya rasa malu dari kaum itu.” (HR. Bukhari – Muslim) “Tidak ada suatu cobaan sepeninggalanku yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki yang melebihi bahayanya cobaan yang berhubungan dengan soal wanita.” (HR. Muslim) “Jika Allah hendak menghancurkan suatu kaum (negeri), maka terlebih dahulu dilepaskannya rasa malu dari kaum itu.” (HR. Bukhari – Muslim)

Seperti halnya seseorang keluar rumah dengan pakaian sobek, karena tidak tahu, akan merasa biasa-biasa saja sekalipun banyak orang yang memandangnya sinis. Tapi manakala ia tahu, muncul rasa malu. Tapi bagaimana seseorang yang berilmu (tahu) tapi masih tetap melakukan perbuatan yang memalukan (munkar)? Manusia seperti ini jelas manusia yang tak tahu malu. Maka tak cukup hanya sekedar tahu atau berilmu, untuk malu seseorang mesti memiliki ilmu. Dengan iman ini rasa malu akan terpelihara. Tanpa iman maka tak ada rasa malu. Pantas jika Rasulullah saw bersabda bahwa rasa malu sebagian dari iman.

Rasa malu ibarat rem yang akan mengerem kita dari perbuatan munkar. Semakin besar rasa malu, maka rem itu semakin pakem sehingga seseorang akan terhindar dari perilaku yang bertabrakan dengan norma. Bisa dibayangkan jika rasa malu itu hilang, maka segala perilakunya tidak akan terkontrol. Mempertontonkan aurat dianggap trend bahkan menjadi tontonan sehari-hari keluarga kita. Begitu hebatnya bencana yang muncul akibat hilangnya rasa malu hingga Rasulullah saw pun menyindir, “Jika rasa malu hilang, maka lakukanlah apa saja oleh kalian sesuka nafsu kalian.” Hal ini mengandung pengertian, jika menimbang mana halal dan mana haram atau hak dan batal suatu perbuatan.

Kalau ini telah demikian adanya, apa bedanya dengan binatang, mereka hidup hanya bermodalkan hawa nafsu tanpa berlandaskan akal sehat. Bahkan manusia akan lebih rakus dan kejam dari binatang. Hilangnya rasa malu adalah awal suatu bencana.
“Sesungguhnya Allah SWT apabila hendak membinasakan seseorang, dicabutnya dari orang itu sifat malu. Bila sifat malu telah dicabut darinya, engkau akan mendapatinya dibenci orang, malah dianjurkan supaya orang benci padanya, kemudian bila ia telah dibenci orang, dicabutlah sifat amanah darinya. Jika sifat amanah telah dicabut, kamu dapati ia menjadi seorang pengkhianat. Jika telah menjadi pengkhianat, dicabutnya sifat kasih sayang. Jika telah hilang kasih sayangnya maka jadilah ia seorang yang terkutuk. Jika telah menjadi orang terkutuk, maka lepaslah tali islam darinya.” (HR. Ibnu Majah)

Oleh karenanya, jika rasa malu sudah hilang pada dada manusia, khususnya pada suatu kaum, maka saksikan bencana apa yang akan menimpa kaum tersebut (naudzu billahi mindzalik), karena sekali lagi sebuah peristiwa seperti halnya bencana tidak datang serta alias ujug-ujug apalagi gratis, melainkan sebuah bayaran mahal untuk sebuah penawaran tinggi. Semoga menjadi bahan tafakur.

Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “Diskusi”

RSS Feed for Pondok Pesantren Al-Asy'ary Comments RSS Feed

Abdullah
Memang kita prihatin bahwa akhir-akhir ini negri kita dilanda bencana yang memakan banyak korban. Seyogyanya setiap kita menyadari apa yang telah kita perbuat selama ini, baik kepada Allah sang Maha Pencipta, kepada manusia sebagai sesama, maupun kepada alam di mana kita berpijak. Semua itu menunjukkan bahwa ada hubungan yang tidak baik antara kita sebagai manusia dengan ketiga hal di atas disadari atau tidak, sehingga hal-hal yang tidak inginkan bisa terjadi, itulah yang disebut sunnatullah. Mari kita renungkan. Wallahu A’lam.

Shalha N. A.
Subhanallah.. Sungguh Maha Besar Allah.. Ini semua adalah tanda-tanda kbesaran Allah manakala manusia sudah tidak tahu malu dan berbuat sesuai nafsunya sendiri. Semua ini patut dijadikan pelajaran bagi kita semua, bahwa sensungguhnya tanda-tanda akhir zaman telah tampak melalui bencana-bencana dan perilaku manusia yang sudah tidak senonoh lagi.
Saya sangat prihatin dengan keadaan manusia yang seperti ini. Ingin tentram, tapi malah membuat ulah. Makanya, semua ini patut dijadikan pelajaran bagi kita semua, khusunya bagi umat islam se-Indonesia. Wallahu A’lam Bissowab..


Where's The Comment Form?

  • Asma’ul Husna

  • Tanggal Hari Ini

  • Blog Stats

    • 2,513 hits

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: